KISAH PARA PELARI ANGKATAN 70

26 March 2021

Syahrial Loetan (SI)

Episode Jersey

Setelah melewati segala kehebohan, tim ITB ‘70 akhirnya memutuskan ikut BNI-ITB Ultra Marathon 2018. Kini, tim fokus pada penentuan kaus seragam atau bahasa kekiniannya jersey. Salah satu kebutuhan yang tidak bisa dianggap sepele. Sebenarnya hal klasik penentuannya ada pada tiga hal, yaitu desain, warna, dan bahan.

Sekitar pertengahan Agustus, saya menghubungi Glenn, adik kelas ketika di SMA Canisius. Dia sudah pernah membuat jersey untuk Tim Runner Canisius dan terus terang saya jatuh hati dengan desain dan komposisi warnanya. Gayung bersambut, Glenn bersedia memberikan nomor HP contact person di workshop mereka di daerah Kapuk.

Setelah menelepon, berunding, dan mempertimbangkan banyak hal, warna orange dan biru menjadi pilihan. Konsultasi jersey ini ternyata cukup panjang dan berliku. Banyak komentar dan masukan, termasuk apa yang akan ditulis di bagian dada depan, tangan, serta punggung. Yang jelas, tidak boleh lupa harus ada tulisan BNI-ITB Ultra Marathon. Mengingat keikutsertaan angkatan ‘70 adalah untuk menggalang dana, mesti tercantum tulisan Dana Lestari ITB. Untuk bahan jersey, saya tidak mau berspekulasi dengan memakai bahan kelas 2.

Berikutnya, kami pun meminta teman-teman, baik yang atlet, suporter maupun soraker, untuk mengisi daftar pesanan berikut ukuran yang diinginkan. Proses ini ternyata menjadi bagian yang paling ruwet. Ada yang ingin tangan panjang, ingin ada kupnat, ingin mengubah ukuran dan jumlah pesanan. Serunya lagi, pada saat jersey sudah masuk proses produksi, tetap saja ada yang menyusul memesan. Bujuk rayu pun dikeluarkan agar workshop mau membuat pesanan tambahan tersebut.

Alhamdulillah, segala keruwetan terlampaui, jersey tim ITB ‘70 telah selesai diproduksi. Bangganya, jersey kami cukup banyak mendapat pujian karena warnanya yang eye catching, tetapi  tidak norak dengan bahan yang halus.

Berbekal pengalaman saat persiapan BNI-ITB Ultra Marathon 2018, rasanya untuk tahun 2019, tim ITB ‘70 akan tampil dengan jersey lain yang lebih menarik dan heboh. Bukan hanya itu, pada 2019, kami juga akan berpartisipasi dengan tim yang lebih banyak sehingga semangat kekompakan akan lebih menguat.

Episode Hari-H BNI-ITB Ultra Marathon 2018

Setelah penantian cukup lama, dari minggu ke minggu, dari hari ke hari, akhirnya tiba jualah hari lomba BNI-ITB Ultra Marathon 2018, Jumat 12 Oktober 2018.

Mengingat jadwal tanding malam hari dan akan selesai dini hari, saya putuskan mencari tempat menginap di sekitar Mampang Prapatan. Hal ini untuk praktisnya mobilitas ke tempat tanding dan sesudahnya nanti.

Kebetulan hari H adalah hari Jumat. Saya minta izin untuk tidak masuk kantor. Rencananya setelah salat Jumat, saya bisa tidur dua jam-an agar pada waktu berlomba di malam hari tidak mengantuk. Sepulang dari masjid, saya berbaring. Tapi, gawat, mata tak bisa diajak kompromi, malah tak kunjung mengantuk. Akhirnya, rencana tidur siang gagal total. Sehabis salat Ashar, dengan membawa semua perlengkapan lomba, termasuk pakaian yang akan dibawa ke Bandung pada hari Sabtu, diantarlah saya oleh Yayat, sopir setia saya yang telah menemani lebih dari 30 tahun.

Tempat transit dan menginap di Mampang Prapatan jadi saksi bisu seorang lelaki 60 tahunan bersiap menjajal kekuatan pada BNI-ITB Ultra Marathon 2018. Segala sesuatu sangat dijaga agar malam nanti tidak ada accident sakit perut atau lainnya.

Setiap pelari disepakati akan mendapat pengawalan dari dua asisten yang mengendarai motor. Yang satu di depan, yang satu lagi mengikuti di belakang. Pengawal di depan saya adalah Maman, asisten Neng Dinah. Sedangkan di belakang adalah Denny dari Medco Ampera. Sebelumnya, saya memberi tahu Denny bahwa saya akan start dari tempat transit di Mampang Prapatan. Jadi, saya minta dia datang lebih cepat agar dapat menemani saya makan, sebelum mengantarkan saya ke gedung BNI Sudirman.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Denny datang. Ketika survei tempat makan, rupanya di sekitar tempat saya menginap banyak penjual makanan berminyak, seperti nasi goreng, kebab, nasi kebuli. Denny mewanti-wanti agar saya tak mengonsumsi makanan berminyak, cari aman agar perut tak bermasalah. Akhirnya, pilihan jatuh ke sebuah resto soto lamongan. Tak terlalu memikirkan soal rasa, yang penting perut terisi agar ada tenaga untuk lomba.

Selesai salat Magrib dan Isya, saya berbenah, mengenakan pakaian lomba. Aksesori tambahan saya masukkan ke dalam backpack. Saya pun diantar Denny menggunakan motor ke BNI Sudirman. Maman, pengawal lainnya, tampak sudah standby di sana. Saya turun mengayunkan langkah ke tempat start. Suasana ramai sekali. Ada band, food truck, dan berbagai keramaian lain, termasuk di area pendaftaran.

De Sorakers ITB ’70 sigap menyambut. Rupanya mereka sudah berkumpul dengan jersey ‘70 yang kece. Ada Tante YP, Bukets, Mbak Ayu, Reny Ang, Uni Ermi, Nuksye, Zus Magda, Teh Ati, Madam Bugis dan Prof Cyccu van Toledo. Para pria tampan, Mas Susilo, Broer RR, Om Wong, Mas Narno, Mang Eme, dan Bang Deks juga telah hadir di sana.

Dengan segala keriuhan di tempat start, tim ITB ‘70 menjadi pusat perhatian, bak seleb. Tua, tapi kece, he he he…. Beberapa kali, tim anak-anak muda mengajak kami berfoto. MC juga sering meneriakkan yel-yel, “ITB 70!!!” Bahkan, band meminta tim kami joget rame-rame di depan panggung sambil diringi lagu “Jaran Goyang”.

Ketika wara-wiri, saya menemukan Neng Meltje yang merupakan pelari di etape terakhir, di antara kerumunan. Rupanya Neng Meltje sedang bertugas mendampingi Pak Warek saat menaikkan bendera start nanti. Neng Meltje mengingatkan saya untuk mendaftar ulang tim agar mendapatkan pengesahan dari panitia. Saya menerima buff, semacam selendang yang nanti diestafetkan kepada pelari berikutnya.

Episode Lari di Estafet Pertama

Sambil menunggu saat start, saya mengamati sekitar. Sumpah mati, dari kecil sampai setua ini, inilah peristiwa paling dramatis karena ikut lomba lari, jarak jauh pula. Lawannya pun bukan main-main, anak-anak muda usia 30-an, 40-an, dan 50-an.

Para penggede, Direktur BNI, Wakil Rektor ITB, Ketua Yayasan Solidarity Forever sebagai penyelenggara, sudah siap di panggung kehormatan. Band serta musik lainnya sudah diminta untuk berhenti karena acara akan segera dimulai. Panitia mengumumkan bahwa para atlet dibagi dalam dua kelompok besar. Kelompok satu terdiri atas pelari 1 x 170 km dan 2 x 85 km. Kelompok dua adalah seluruh atlet sisanya, yang Relay 4, Relay 8, dan Relay 16 (yang diikuti oleh tim ITB ‘70).

Di barisan kelompok satu, para atlet profesional telah bersiap. Mereka berbadan slim dan membawa perlengkapan lari malam hari. Setelah semua siap, kelompok pertama dilepas tepat pada pukul pada pukul 22.00. Begitu bendera berkibar, mereka melesat bagaikan anak panah dan tak terlacak lagi.

Di belakangnya, kelompok dua, termasuk saya yang belum pernah ikut tanding berbaris. Saya mengambil posisi paling depan. Dua gadis memegang spanduk sehingga tidak seorang pun bisa melewatinya sebelum tanda dikibarkan tepat pukul 22.05 WIB. Begitu bendera naik, si gadis berlari ke samping dan memberi jalan bagi para atlet untuk bergerak maju dibawah sorak sorai penonton (termasuk teman-teman ITB ‘70). Betapa kagetnya saya dan darah pun tersirap melihat anak-anak muda di samping saya langsung sprint serta melesat maju. Antara kaget dan bercampur malu, saya pun mencoba berlari cepat ke depan, belok kiri sambil menurun menuju terowongan Dukuh Atas. Polisi yang mengatur lalu lintas memberi tanda agar barisan atlet jangan sampai terputus. Saya mempercepat lari, terus, terus, dan terus… sampai napas tersengal-sengal. Dalam hati saya ngomel, anak-anak muda itu bukannya start kalem-kalem saja…. Hiks.

Saya mengira setelah mencapai Jalan Sultan Agung akan langsung belok kanan melewati Gedung Landmark. Namun, rupanya perkiraan meleset. Kami mesti berlari sampai mencapai U-turn pertama, baru balik arah, kemudian belok kiri di samping danau air limbah menuju Kuningan. Lumayan jauh.

Perjuangan di kilometer pertama yang semestinya belum apa-apa sudah membuat saya kehausan. Kerongkongan kering. Tapi, saya coba menahan untuk tidak minta minum kepada Denny yang mengawal beberapa meter di belakang saya. Namun, menjelang MMC, tenggorokan saya tidak bisa kompromi. Akhirnya saya minta sedikit air ke Denny. Alhamdulillah. Pertarungan pun berlanjut.

Karena seminggu sebelum tanding rute Kuningan ini sudah pernah saya jajal bersama Miss Gubrag, saya sudah menandai beberapa titik yang harus saya capai dengan waktu tertentu. Namun, karena rute awal ditambah mungkin sekitar 1 km, orientasi saya agak sedikit error. Yang jelas, menjelang persimpangan underpass Gatot Subroto, waktu yang terpakai sudah hampir satu jam.

Panitia meminta semua atlet ikut lari masuk melewati underpass dan meminta kita cepat supaya tidak menggganggu lalu lintas Jumat malam yang padat. Selama menempuh jalur Kuningan, selain berhati-hati terhadap kepadatan kendaraan, susul-menyusul terus terjadi. Emosi pun mulai terpacu, hehehe….

Saat melewati underpass Gatot Subroto, rupanya Denny mengambil video saat saya menyusul seorang gadis angkatan muda. Ketika video tersebut saya upload di Facebook, Bang Guntur Siregar kaget. Rupanya anak gadisnya yang saya salip.

Keluar dari underpass, jalanan agak menanjak. Dengan napas tersengal-sengal saya sampai juga di Mampang Prapatan yang naudzubillah padatnya. Kadang kita harus mengalah untuk naik ke trotoar yang sempit. Di jalan yang lurus itu, ternyata ada juga turunan dan tanjakan landai. Di situ banyak momen susul-menyusul. Sering kali disusul, tapi saya lumayan sering juga menyusul. Saya khawatir teman-teman di etape berikutnya akan dirugikan. Saya terus berusaha, jalan lari, jalan lari, jalan lari. Menjelang Pejaten Mall dan hampir mencapai finis, saya coba lari lagi, tapi lutut kanan saya terasa agak nyeri. Jadi, saya hanya bisa jalan cepat. Tak mau menyerah, saya coba lari lagi, tapi tak sanggup.

Akhirnya, beberapa puluh meter di bagian depan terlihat kerumunan. Rupanya itulah lokasi Water Station (WS) 1, tempat saya harus menyerahkan buff kepada Neng Dinah. Pukul 23.59 WIB saya sampai di WS 1 dan berfoto dengan Neng Dinah yang berwajah cemas karena waktu saya agak mundur sedikit. Serah terima pun selesai.

Episode Mengawal Neng Dintje sebagai Pelari Etape Dua

Sesampainya di Water Station 1, yang berjarak 12,05 km dari titik start di BNI Sudirman, berakhirlah sudah tugas saya. Dari awal saya memang sudah berniat akan ikut mengawal Dintje dengan diboncengkan oleh motor pengawal yang dikendarai Denny. Kaki yang masih terasa kebas setelah jalan dan lari di etape pertama tidak begitu saya pedulikan. Saya langsung naik ke boncengan. Saya ambil tongkat panjang yang berkelap-kelip sebagai alat bantu mengatur lalu lintas dan sekaligus memberi tanda/kode pada pelari. Jadi, saya bertindak sebagai panitia tidak resmi. Hehehe….

Kembali ke Neng Dintje. Dia berjalan dengan cepat, memakai rompi dan topi yang mengandung bahan pantul. Motor kami arahkan mendekati Dinah, tapi dalam jarak yang tetap memungkinkan kami mengamati. Sesekali kami menyusul, kemudian berhenti untuk memberi waktu bagi Dinah tetap dalam pantauan. Di depan dan belakang Dinah, banyak pelari lain yang kebagian jatah ikut kami awasi.

Etape dua ini termasuk unik karena melalui jalan arteri di samping JORR yang cukup lebar, tetapi lalu lintasnya pun ramai. Setelah melalui flyover, berbelok ke kiri ke arah utara kembali. Dan setelah cukup jauh, harus U-turn menyusuri rel kereta api dan kemudian tinggal lurus. Situasi jalan di tepi rel kereta api cukup sunyi dengan lampu jalan yang tak begitu terang. Nah, di sini saya baru berpikir, betapa kurang nyaman bagi pelari wanita jika berjalan seorang diri. Panitia memang ada di sepanjang jalur, tetapi jarak antar-panitia cukup renggang sehingga bisa terjadi sesuatu. Kebetulan di etape ini jarak antar-pelari cukup jauh sehingga tidak terlihat pengelompokan pelari.

Pada saat kami sedang berhenti menunggu Dinah di sekitar pertengahan etape, ada seorang peserta yang berjalan berpasangan dengan teman prianya, rupanya menginjak tepi trotoar yang tidak rata sehingga jatuh terduduk di tepi jalan. Denny dengan gesit membuka kotak P3K dan mengeluarkan krim gosok untuk mengobati kaki si wanita. Setelah beberapa saat si mbak merasa lebih enakan dan dengan lambat mulai berjalan kembali bersama teman prianya. Kami pun segera menyusul Dinah yang sudah menjauh.

Ketika disusul, saya lihat wajah Dinah kelihatan kelelahan. Saya tawarkan apakah ia memerlukan kurma untuk penambah tenaga. Tapi, Dinah tidak menjawab dan terus berjalan dengan cepat. Dia malah minta tolong diisikan air ke botol kecilnya yang sempat saya kira botol parfum! Dengan terus mengikuti Dinah, saya pun mengamati bahwa di jalan itu terdapat stasiun KRL Lenteng Agung. Sepanjang jalan ternyata banyak usaha cuci mobil. Gelo phizan, nyuci mobil kok tengah malam.

Setelah menelusuri jalan yang lurus, akhirnya melewati bundaran yang merupakan jalan cabang menuju kampus UI. Artinya, tak lama lagi Dinah akan sampai di Water Station 2, tempat akhir etape dua. Sekitar pikul 01.45 WIB, sampailah Dinah di titik finisnya. Di sana dia disambut ustad kondang van Cireundeu, Om Boyke Sofyar yang ditemani panglimanya anu geulis, Evi. Setelah serah terima buff dan foto-foto, berakhirlah tugas saya sebagai pengawal pelari dua.

Setelah cipika cipiki dan mengucapkan good bye, saya meminta Denny mengantarkan saya ke Mampang Prapatan untuk istirahat. Lumayan jauh perjalanan tersebut, apalagi dilakukan di tengah malam yang terasa dingin karena saya hanya mengenakan jersey. Sesampai di kamar, saya sempat melihat jam tangan saya pukul 03.00 pagi. Kaki terasa lebih enakan walau masih kebas setelah perjalanan saya di etape pertama.

 

Boy Sofyar (TI)

Keputusan Gila

Semasa muda sampai ke jenjang SMP, aku mengikuti olah raga sepak bola dan basket. Setelah menginjak SMA, aku tak pernah lagi berolah raga. Belakangan, aku hanya berjalan sepanjang 2 km. Itu pun aku lakukan bila ingin melaksanakan ibadah umrah atau haji. Setelah selesai melaksanakan ibadah-ibadah tersebut, aku pun berhenti menjalankannya.

Pada bulan Juli tahun ini, di acara pertemuan dengan para sobat di Escape, tercetuslah keinginan untuk membentuk tim ITB ‘70 guna mengikuti kegiatan BNI-ITB Ultra Marathon sejauh 170 km. Dibutuhkan 32 pelari yang masing-masing akan menempuh jarak 5 km. Aku mendaftarkan diri, bukan sebagai pelari, tapi sebagai anggota tim logistik karena sadar tidak kuat menjadi pelari.

Waktu terus berjalan, tiba-tiba musibah mendatangi keluargaku. Ibunda tercinta dipanggil oleh Sang Pencipta. Para sobat datang melayat ke rumah duka, salah satunya Donie. Sambil menunggu salat jenazah, ia bercerita bahwa tim ITB ‘70 masih kekurangan pelari. Spontan kujawab bahwa kalau untuk 5 km akan kucoba. Aku pun mulai menyiapkan diri dengan berlatih berjalan dari 2 km, yang terus kutingkatkan hingga mencapai 5 km.

Di tengah masa latihan, ada pemberitahuan dari panitia bahwa tiap pelari harus menempuh jarak sekitar 10 km, bukan 5 km. Saat itu hatiku mulai bimbang. Namun, para sobat memberi semangat dan berkaata, “Masih ada waktu 2 bulan lagi. Kita coba latihan dulu, Hasilnya bagaimana nanti.”

Sebulan menjelang pelaksanaa, aku memberi tahu istriku, Evi, bahwa aku terpaksa menjadi salah seorang peserta karena tim ITB ‘70 kekurangan pelari. Mendengar itu, dengan muka terkejut ia hanya berkata, “Memangnya kuat dan bisa? Olahraga saja tidak pernah kamu lakukan.” Selain itu, waktu teman-teman salat Jumat kuberi tahu, mereka memberi komentar antara lain, “Lo udah gila, itu sama saja cari mati…”. “Umur lo udah 67, olahraga enggak pernah. Coba dipikir lagi…” Pendeknya, komentar-komentar mereka semua negatif.

Hatiku pun bergejolak. Apakah aku harus mengatakan kepada para sobat pelari bahwa aku mengundurkan diri? Namun, akhirnya kuputuskan untuk mencoba terus berlatih karena bila aku mundur, pastinya mereka semua akan kecewa. Porsi latihan kutingkatkan menjadi 5 kali dalam seminggu. Aku teringat dengan pepatah yang mengatakan, “Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan.”

Akhirnya, alhamdulillah, aku dapat menyelesaikan etape yang menjadi tanggung jawabku dengan finis di bawah waktu yang ditentukan panitia. Mungkin inilah suatu “keputusan gila” yang pernah aku ambil dalam hidupku. Semoga di sisa usia ini, tidak ada lagi “keputusan gila” yang harus kuambil.

Jumat Mencekam

Menunggu dimulainya lomba membuat perasaan makin tak menentu, stres berat. Pada malam menjelang lomba, badan rasanya tidak keruan, meriang, dan ngilu. Campur aduk. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi aku tetap tak dapat memincingkan mata. Diam-diam, aku minum Panadol 1 tablet.

Biasanya hari Jumat kulalui dengan riang gembira karena setelah Jumatan kami akan menikmati makanan aneka rupa tanpa harus memikirkan tagihan, hehehe…. Namun, di hari Jumat, 12 Oktober 2018, aku terbangun dini hari dengan kepala agak pusing dan badan terasa pegal linu. Mungkin ini karena sampai pukul 01.00 mataku masih terjaga akibat pikiran yang berkecamuk mengenai keikutsertaanku di BNI-ITB Ultra Marathon. Pagi itu aku menelan 1 tablet Panadol lagi. Aku tidak memberi tahu keadaanku ini kepada istriku, Evi, karena pasti aku tidak akan diizinkan ikut lomba.

Aku melaksanakan salat Jumat di dekat rumah agar tubuh tidak letih menempuh perjalanan pulang pergi yang biasanya memakan waktu hampir 3 jam. Sore harinya, perutku mendadak mulas dan tiap sebentar terpaksa ke kamar kecil. Mungkin inilah yang dirasakan para atlet ketika akan mengikuti pertandingan.

Pukul 22.30, aku bersiap-siap karena pada pukul 00.15, yaitu 45 menit sebelum sobat Dinah sampai di garis finisnya, aku sudah harus berada di sana, yang merupakan tempat startku. Pukul 23.15, aku berangkat dengan didampingi Evi menuju kampus STT Nurul Fikri. Selama dalam perjalanan kami diam membisu, masing-masing bergulat dengan pikirannya masing-masing. Di pikiranku berkecamuk aneka kebimbangan. Apakah aku dapat menyelesaikan 10 km yang menjadi tanggung jawabku? Apakah lututku, yang sudah bermasalah sejak tiga tahun lalu, tidak akan kumat? Tiba-tiba ada panggilan face time dari Katharina, cucuku. Dia hanya berkata, “Take care Pasya, do the best,” tapi cukup membuatku bersemangat kembali.

Setiba di tujuan, Ramdan, salah satu pendamping, mendatangi seraya berkata, “Etape bapak bukan 10 km tapi 11 km karena jalan yang diambil yang paling kiri, bukan yang di tengah.” Dalam hati aku ngedumel, karena waktu ketemu dengan Mas Hari, salah satu panitia, aku sempat menanyakan jalur untuk etape 3 karena ada jalur. Dan mendapat jawaban, “Yang 10 km dan jalannya besar serta ramai. Kenapa bisa berubah? Tapi, memangnya bisa protes? Nikmati saja perjalanan yang lebih panjang, hahaha….

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Dinah masih bergelut dengan kemacetan jalan. Benar kata orang bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan.

Akhirnya pada pukul 01.40, Dinah tiba dan langsung kami berfoto ria. Kemudian disusul dengan kedatangan Uda. Inilah ketua yang baik, bertanggung jawab terhadap anak buahnya. Kembali kami ber-narsis ria, sampai Uda mengingatkan, “Din, apakah buff sudah diserahkan? Boy, cepat berangkat!” Pada waktu itu jam menunjukkan pukul 01.55. Berarti kami narsisan selama 15 menit. Kami tidak tahu bahwa panitia menghitung waktu start pelari dihitung dari kedatangan pelari sebelumnya. Untung kita bukan mencari gelar juara. Yang penting kebersamaan dan happy, hehehe….

Setelah melewati 500 m pertama (ini saya ketahui karena pendamping diminta berhenti tiap 500 m dan menunggu saya melewatinya sebelum ia melanjutkan perjalanan), tiba-tiba 5–6 pelari melewati aku seraya berkata, “Mas, jalan? Kami duluan.” Kalau mengikuti kata hati, mungin aku akan ikut berlari. Untung kuingat kata-kata bijak, “Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin.”

Melewati 1 km, betis mulai terasa agak naik, tapi alhamdulillah di kilometer 3 sudah terasa normal kembali. Mungkin itu karena betisku sudah ditempel dengan koyo pemberian sobatku, Cyccu (trims, Cyccu!). Untuk diketahui, selama latihan aku sudah menghabiskan koyo 3 pak. Memasuki kilometer 4, aku bertanya pada pendamping berapa kilometer yang sudah kulalui. Ketika dijawab 3 km, aku kembali bertanya, Bukannya sudah 4 km?” Dia menjawab, “Yang 1 km pertama tidak saya hitung. Kan Bapak latihannya untuk 10 km. Bohong yang kreatif dan positif.

Di kilometer 5, aku mencoba berlari kecil sampai kilometer 7. Mungkin ada 15–20 pelari yang kulewati. Malah, ada yang memakai kaus dengan tanda angkatan ‘94. Dari kilometer 7–9, aku berlari diselingi dengan berjalan. Aku ingat kata-kata Denmas dan Bude, di usia kita ini jangan sampai detak jantung melewati 130. Kalau Denmas dan Bude, bisa melihat detak jantungnya di smart watch yang mereka pakai. Tapi, orang Cireundeu karena tidak punya, jadi pakai perasaan saja.

Pada kilometer terakhir, kukatakan kepada pendamping, “Kamu tunggu di garis finis dan kasih tahu ibu.” Evi dengan kendaraannya setia mengiringiku dan berhenti di setiap 2 km, menunggu aku lewat. Begitu melewati belokan jalan, di depan mata sudah terlihat lampu-lampu. Aku menambah kecepatan lari dan akhirnya, alhamdulillah,  mencapai garis finis dalam tempo di bawah waktu yang ditetapkan panitia. Kulihat Evi sudah menanti bersama Rani berikut the happy family-nya.

Aku difoto bersama Rani untuk arsip panitia dan tentunya kami juga ber-narsis ria sendiri. Begitu Rani memulai perjalanan yang menjadi tanggung jawabnya, saya dan Evi beranjak menuju kendaraan untuk pulang ke rumah. Kami bertemu dengan sekumpulan orang, yang langsung menyapa Evi, “Mbak, itu si Om angkatan 70’. Hebat…” Rupanya sambil menunggu tadi, Evi sempat berbincang dengan mereka, angkatan ‘88.

Dalam perjalanan pulang, untuk menghilangkan kepo aku bertanya, “Kenapa tadi setiap 2 km kendaraan berhenti?” Sambil tertawa Evi menjawab, “Terus terang Mama enggak yakin Papa akan bisa sampai ke finis.” Evi tidak tahu bahwa setiap alumni ITB ‘70 memiliki moto, “Veni, Vidi, Vici” alias “Kami Datang, Kami Melihat, Kami Senang.”

Ketika aku tadi berhasil menyelesaikan etape-ku, Evi mengirim japri kepada kedua anakku. Ketika masih di kendaraan, panggilan face time berdering di gadget-ku. Katharina berkata, “Good job, Pasya. I’m proud of you.” Sedangkan adiknya, Alexander, mengucapkan, “Good job, Pasya.” Selain itu, masuk pesan dari menantu di tempat kerjanya, “Congrats, Pasya, on the finishing the run. We all are really proud of you and your achievement.” Ucapan dan pesan ini merupakan hal yang sangat berarti buatku, bahwa di usia senja ini masih dapat membuat mereka semua bangga dengan Pasya-nya.

Terima kasih Allah, Engkau telah membuat kenangan terindah bagiku.

Nurfakih Wirawan (AR) – Sawing

Pengalamanku berpartisipasi di BNI-ITB Ultra Marathon, selain dari teknis lari, ternyata masih banyak hal yang membuat diriku waswas.

Waswas pertama, apakah pada hari H kondisi tubuh kami fit. Maklum, dalam usia rata-rata 67 tahun, fisik bisa ngedrop.

Waswas kedua, berkaitan dengan medan yang akan kami tempuh. Kemungkinan kondisi trotoar dan badan jalan yang tidak memadai, perawatannya tidak baik, ada lubang di jalan dan lainnya.

Waswas ke tiga, mengenai kondisi trafik. Maklum, ada jalur yang lumayan crowded, dengan campuran pengendara motor, angkot, bus yang tidak memiliki disiplin lalu lintas serta sering kali tidak mengindahkan keselamatan orang lain.

Waswas keempat, berkaitan dengan jadwalku yang kebetulan pagi hari, antara pukul 05.00 sampai pukul 07.30. Tahu sendirilah bahwa itu waktu kebiasaan kita unloading (meminjam istilah Iyus). Bagaimana kalau pas sedang berlari tuntutan unloading tiba.

Waswas ke lima, cedera di jari kakiku masih belum sembuh. Dua jariku mengalami pendarahan di bawah kuku. Apakah akan mengganggu pada saat aku berlari?

Semua waswas itu ternyata belum seberapa dibandingkan waswas pada hari H menunggu lomba dimulai. Pagi itu aku datang di lokasi start di WS 3 pukul 04.00 pagi. Menunggu start terasa lama sekali. Paling tidak aku ke kamar kecil sampai 4 kali. Jarum jam terasa lamban berdetak. Sebenarnya aku enggak tahu, ini waswas menunggu waktu start atau karena menggu dia, pelari sebelumku.

Semua waswas itu terefleksikan dalam rekam detak jantungku selama menempuh jarak 11,3 km di Cibinong Bogor. Zona merah di atas 137 beat per menit 28%, zona kuning 122–137 bpm 71%, sedangkan zona hijau 107–121 bpm 1%. Padahal, kala latihan biasanya hanya ada zona kuning dan hijau.

The Journey, not the Destination

BNI-ITB Ultra Marathon 170K jelas merupakan keberhasilam tim ITB ‘70. Setelah sekian minggu menikmati kesuksesan itu, yuk kita flash back melihat proses pencapaian ini. Rasanya semua sepakat proses itu tahap demi tahap menyenangkan. Apa pun yang kita kerjakan, kita lalui, semua terasa indah. Kita berkomunikasi intensif, berinteraksi positif. Semua terasa ringan, semua kooperatif, semua terbuka, semua menyenangkan.

Kita bisa mengenal lebih dalam pribadi masing-masing peserta, misalnya:

  • Ada pribadi yang sangat menonjol antusiasmenya. Itu lho, teman kita yang badannya berisi. Dia pun mampu menggerakkan orang-orang di bawah kendalinya untuk menyukseskan misi ini. Bayangkan kalau dia pemimpin yang lebih besar cakupannya.
  • Lalu ada kawan kita yang menonjol solidaritasnya. Mau berkorban walau merepotkan diri. Mungkin lebih tepatnya, menonjol tanggung jawab atas tugas yang diembannya sebagai kapten. Kok masih ada ya orang langka macam begini.
  • Juga ada yang penampilannya rada pucat-pucat. Tapi, ternyata beda tampak luar dengan kekuatan di dalamnya. Jalannya, ampuuun kenceng banget. Itu lho dia yang selalu serius, sehingga kalau ngebodor pun kita sangka dia masih serius. Jadi kita tidak bakalan ketawa.
  • Dan ada yang tidak mengubah penilaianku dari kenal sampai sekarang, tidak ada pengetahuan baru tentang dia. Orangnya tegas, kalau iya ya iya, kalau enggak ya enggak. Sepertinya tidak ada ruang nego sedikit Padahal, teman kan sekali-sekali perlu diakomodasi keinginannya.

Kalau bicara diriku sendiri, sebenarnya di BNI-ITB Ultra Marathon 170K aku punya tujuan, tapi bukan hidden agenda, yaitu ingin menurunkan berat badan dan mengecilkan perut biar bisa berpenampilan six pack. Tapi alih-alih kempes, habis lomba maraton malah jadi doyan banget makan.

For your information, pribadi-pribadi yang lain bukannya tidak bisa dibahas, Cuma aku takut ada yang salah terima. Bisa benjut nanti kepalaku.

Akhir Kata

Rangkaian BNI-ITB Ultra Marathon 170K Jakarta-Bandung dapat dikatakan tuntas sudah dengan acara di kampus ITB. Pada tempatnyalah saya mengucapkan terima kasih kepada semua teman-teman ITB ‘70 tanpa kecuali, baik yang ikut maraton ataupun yang tidak. Kebersamaan memang sangat terasa.

Mudah-mudahan teman-teman sependapat dengan saya, keberhasilan pencapaian dalam lomba maraton ini hanyalah salah satu contoh kecil bahwa di umur kita ini masih banyak hal  yang dapat kita perbuat, untuk kebaikan tentunya.

Selama kita mempersiapkan diri dengan baik, rasanya kita masih bisa sangat kuat, sangat produktif, sangat mampu, untuk menangani bidang apa saja, sesuai kesempatan dan preferensi kita masing-masing, dengan ridho Allah tentunya.

Sekali lagi tanpa menyebutkan nama karena akan sangat panjang, terima kasih teman-teman baikku ITB ‘70.

Ari Darmawan (SI)

23 Juli 2018, Iyal mengimbau teman-teman agar ikut berperan dalam BNI-ITB Ultra Marathon, baik sebagai atlet ataupun suporter.

26 Juli, Melok mulai sibuk mencari peminat untuk menjadi tim marathoner ITB ‘70. Dua puluh nama lebih masuk ke dalam list. Saat itu masih bingung dan sulit mencari peminat. Di antara nama yang terdaftar banyak yang hanya sanggup menempuh 5 km. Cyccu malah akan jalan cepat saja. Sementara itu angkatan lain sudah mulai membentuk tim, malah ada yang akan mengirim 2 tim.

2 Agustus, diadakan kumpul-kumpul di Escape, markas ITB 70. Mas Susilo, Mas Gatot, dan Mas Hari memberikan penjelasan yang membuat teman-teman bersemangat. Apalagi kita mendapat julukan sebagai SAAS (Super Active Aging Society). Bahasa kerennya mungkin aki nini uzur gaul… Dan, ITB ‘70 pun mendaftar sebagai tim paling senior.

Mulai saat itu tim Jakarta mulai latihan bersama. Tercatat lebih dari lima kali GBK (ketika CFD) dan Ragunan, dengan Kapten Pelatih Narko dan Organizer Sawing. Ima dan Deks sempat juga ikut latihan dan berhasil mengikuti kecepatan yang lain.

8 Agustus, koordinator (Iyal) menawarkan jersey dalam dua warna. Peminat membeludak, ada yang minta lengan panjang, ada yang minta model daster (XXXL). Iyal pun sibuk.

Beberapa kali pertemuan selanjutnya diadakan di Escape untuk membahas rute, pilihan WS, finalisasi etape masing-masing. Dalam periode ini Yani membeli langkah para pelari Rp 1 juta per km, yang menambah semangat. Ditambah kadeudeuh bisa untuk membeli perlengkapan. Jadi seperti pelari maraton beneran euy….

Kegiatan Baru dalam Hidup

Dulu hari-hariku berlalu tanpa olahraga pagi. Boro-boro maraton, JJP aja malas. Tapi, melihat beberapa sobat kok menikmati JJP, jadilah aku ikut-ikutan. Apalagi ada niat ingin perut small, zero pack. Selesai latihan pertama, betis kaku, dua minggu baru pulih. Lalu berlatih lagi dengan baju dan sepatu seadanya. Beberapa kali JJP ternyata bisa juga menyelesaikan jarak 10 km.

Lalu aku pun diajak ikut UM 2018. Siapa takut? Masuk tim ITB ’70, bangga dong. Cepat-cepat aku mencari rute yang enggak banyak tanjakannya dan start pagi hari. Maka, kupilih WS 5, dari PLN Bogor ke Ciawi (belakangan diubah start di All Fresh).

Untuk mengetahui medan, kupikir perlu latihan di real route dan kulakukan sampai 4 kali. Hasilnya? Capek banget, tapi juga happy banget setelah finis. Kunikmati keberhasilanku sambil selonjor di warung, menikmati susu jahe.

Kelihatannya mesti membuat strategi untuk diri sendiri untuk mengurangi rasa bosan di jalan dan agar tidak terasa jarak yang akan ditempuh. Setiap pencapaian 1 km, kubuat catatan. Kilometer 1 Terminal Baranang Siang. Kilometer 2 Resto Sabu Hachi. Kilometer 3 Mall Ekalos, dan seterusnya. Itu target jarak pendek. Setiap menyelesaikan 1 km, rasanya senang dan semangat bertambah.

Saat berjalan dan melihat nun di sana ada baliho yang harus kulewati. Jauh niaaan…. Supaya enggak kepikiran, ogut jalan atau slow run dengan menunduk saja. Eh, tidak terasa baliho sudah terlewati. “Go… go… go, Aiii,” aku meneyemangati diri sendiri. Strategi lainnya dengan menghitung tukang buryam di sepanjang rute. Ada 15 tukang buryam di luar tukang soto kuning, lonsay, gorengan, dan lainnya.

Menjelang hari H, aku latihan menggunakan kostum ala atlet pelari Asian Games. Waktu papasan dengan pelari lokal, mereka melambaikan tangan sambil mengacungkan jempol. Mungkin mereka pikir si aki itu pasti lagi ikut lomba dalam rangka Porda Kecamatan mewakili Leuwiliang atau Ciseeng, jiga na.

Pada hari H, aku hadir 1 jam sebelum waktu start, tapi tidak ada yang kukenal di WS 5. Pukul 7.30 aku mulai menempuh etapeku, setelah menerima buff dari pelari WS 4, Sawing, yang didampingi 2 pengawal. Baru jalan 50 meteran, aku jatuh karena sibuk nyetel running watch dan mau kirim berita ke grup bahwa aku sudah bergerak. Kesandung deh…. Punggung telapak tangan kiri luka berdarah karena dipakai mengamankan HP. Dengkul kiri juga luka, tapi yang kanan memar dan agak bengkak. 2XU (semacam legging) sobek dan bolong. Pengawal sibuk, tapi aku segera berdiri dan bilang bahwa aku masih kuat serta minta mereka menunggu saja di depan. Sebetulnya pengawal membawa bekal P3K, tapi akan menhabiskan waktu kalau nyocol-nyocol Betadine dan bisa kacau teman-teman di etape selanjutnya. Semua akan ikut terlambat. Tapi kecepatanku menjadi terganggu. Ingin lebih cepat tidak sanggup. Yang seharusnya 10 menitan per km menjadi hampir 11 menitan

Di tengah perjalanan sempat disusul 2 pelari wanita, “Duluan ya Maaas…” Waduh, aku dipanggil Mas, tapi kujawab juga, “Oh iyaaa Mbak, silakan.” Karena penasaran ingin melihat wajah mereka, maka kudekati. Eh, ternyata bukan embak, tapi sudah masuk kategori embah (kaya ogut juga dong).

Selanjutnya suasana seperti saat latihan saja. Sampai 30 m menjelang finis, agak maksa lari supaya ditepokkin penonton. Ternyata… tidak ada penonton. Ya sudah, kuserahkan buff ke Mas Susilo, berfoto, lanjut minum susu jahe. Sakit dan perihnya luka baru terasa waktu itu. Alhamdulillah tidak sampai merusak target waktu tim ITB ‘70. Total waktuku 1 jam 44 menit, lumayan masih di bawah COT yang 2 jam.

Terima kasih grup pendukung Jakarta (UBoy), yang selain menyediakan pengawal, juga extra fooding yang lumayan banyak. Tidak mungkin dibawa ikut berlari karena isinya 2 ons kurma, 6 buah jeruk, 6 botol minuman penyegar ukuran 600 ml dan 4 botol air mineral 600 ml juga. Terima kasih banyak sobat-sobat ITB ‘70 atas doa dan soraknya.

Susilo Siswoutomo (MS) – Susilo

Gileee, ITB ‘70 Ikut Ultra Marathon, Hoax Barangkali…

Tahun 2017 lalu, Yayasan Solidarity Forever (YSF) menyelenggarakan BNI ITB Ultra Marathon, menempuh jarak 170 km melalui jalur Jakarta–Puncak – Bandung. Event tersebut diikuti kira-kira 40 tim relay yang terdiri atas 16 orang, atau total sekitar 600 alumni ITB dari berbagai angkatan dan jurusan.

Dan tahun 2018, YSF kembali menyelenggarakan event yang sama dengan jumlah peserta dua kali lipat. Saya pengiiin sekali ITB ‘70 bisa mengirimkan satu tim. Dan dengan semangat dan determinasi teman-teman, akhirnya terbentuklah tim Relay 16, yang merupakan peserta tim tertua dari alumni ITB. Ketuanya Uda Iyal, tim teknis Mas Narko, dan tim support Ustad Boy.

Yang sangat menggembirakan dan membesarkan hati saya adalah semangat berlatih teman-teman. Antusiasme, keseriusan, kerjasama, keguyuban, kebersamaan, bercampur dengan kekhawatiran, rasa waswas, kurang pede, dan lainnya, ternyata membangkitkan semangat yang bukan main. Plus, tentunya, rasa pengen narsis (ini sih keharusan, he he he) dan pengen pamer bahwa ITB ‘70 yang rata-rata berusia di atas 67 tahun, mampu bersaing dengan alumni ITB lainnya yang masih lebih muda. Duh, betapa senangnya kalau kita berhasil dengan baik dan aman.

Tak kalah pentingnya, kami memperoleh bonus sehat, di samping bonus perut kempes (seperti target Om Ai dan Sawing). Sehingga target tim Relay 16 ITB ‘70 adalah berusaha untuk tidak menjadi finisher yang paling buncit. Kalau hal itu sampai terjadi, padahal sudah heboh, kan “aib”, hik hik hik…. Dan itu tanggung jawab semua anggota tim, terutama Pak Ketua Tim dan Pak Ketua Teknis untuk membuat strategi latihan, penempatan pelari di setiap etape dan tim support.

Hari-hari Latihan

Aku menerima saja mendapat rute menanjak dari WS 6 ke WS 7, dengan jarak tempuh sekitar 10 km antara Ciawi ke Cisarua. Yang pasti, nanjak banget, tapi saya optimistis bisa menempuh jarak tersebut di bawah COT limit 2 jam yang diperkirakan oleh panitia. Tapi, aku harus mencoba rute tersebut paling tidak dua kali.

Kali pertama, aku coba di hari Sabtu pagi. Mulai pukul 07.30 dengan jalan cepat, aku on-kan Nike Run Program-ku. Aku pikir WS 7 di Kebun Teh Gunung Mas, maka aku pasang target sampai di sana dalam 2 jam. Lewat Gadog masih OK. Tanjakan setelah jembatan Gadog sampai Cipayung ternyata berat. Keringat mengucur sudah tidak tahu lagi berapa liter, hehehe…. Mega Mendung masih bisa kulewati. Di tanjakan Bhimacakti aku sudah agak memaksa. Lewat pasar Cisarua sampai pertigaan Cisarua- –Taman  Safari sudah gempor. Rasanya mau pingsan, ah malu-maluin aja.

Aku buka HP, lho kok sudah 2,34 jam dan 13,4 km. Padahal, Gunung Mas masih jauuuh dan tanjakannya lumayan. Wah, enggak bener nih panitia. Padahal, aku harus sampai di Gunung Mas, tapi aku sudah capek dan tidak minat jalan lagi. Aku lalu membonceng sopirku yang dari tadi mengiringi menggunakan motor. Sampai di Gunung Mas mata sudah berkunang-kunang. Eh, waktu kontak Narko baru ketahuan bahwa aku kebablasan. Busyettt deh….

Aku juga mendorong teman-teman untuk berlatih di rute masing-masing, termasuk menemani Om Sawing njajal rute WS 4 ke WS 5. Dan aku betul-betul salut terhadap semua anggota tim, baik dari Jakarta maupun Bandung, yang gigih melakukan latihan. Yang di Jakarta, biasanya latihan bersama di Ragunan dan CFD selalu diakhiri dengan wisata kuliner. Benar-benar heboh, guyub, dan saling bantu.

Uji rute kedua aku lakukan seminggu sebelum hari H, juga pada hari Sabtu. Perjalanan relatif lancar karena aku sudah punya strategi untuk menaklukkan tanjakan-tanjakan yang kulewati. Aku berangkat dari Ciawi pukul 08.30 WIB dan sampai di Resto Malayang dalam waktu 1 jam 38 menit. Di WS 7 aku bertemu bertemu dengan anggota tim lain yang belasan tahun lebih muda, yang juga sedang berlatih. Aku cukup gembira ketika tahu bahwa waktu tempuhku lebih baik dari anak-anak muda tersebut. Jadi lebih pede….

Jualan Langkah untuk ITB-ku

Salah satu tujuan diadakan Ultra Marathon ini adalah untuk menggalang dana melalui crowd funding dari masing-masing tim pelari. Caranya terserah pada masing-masing, yang penting dana yang terkumpul disumbangkan ke ITB. Ada yang melakukannya secara keroyokan. Ada yang masing-masing individu serta ada juga yang mencari sponsor untuk kemudian dikumpulkan di tim.

Nah, aku juga menjual langkahku ke teman-teman dekat, baik yang alumni maupun bukan. Aku sebarkan beberapa e-poster. Tiap langkah aku jual Rp 500.000/km. Alhamdulillah sampai tanggal 14 Oktober 2018, terkumpul dana sebesar Rp 130 juta.  Ini semua kusumbangkan untuk ITB-ku. Rp 85 juta kusalurkan lewat ITB ‘70 untuk Dana Lestari dan Rp 50 juta untuk FTMD melalui YSF.

Jumat Malam: Pemberangkatan Para Pelari

Tibalah hari H, 12 Oktober 2018. Llomba 170K BNI-ITB Ultra Marathon 2018 dimulai dan start dari kantor BNI di Jalan Sudirman. Sebagai ketua penyelenggara, aku betul-betul sibuk mempersiapkan acara tersebut bersama seluruh tim panitia dan pihak BNI. Kemeriahan, kehebohan, antusiasme dan excitement dari seluruh pelari, pendukung, soraker, panitia dan hadirin lain terasa sekali. Betul-betul acara yang spektakuler dan membanggakan bagi seluruh alumni ITB.

Para pelari solo start tepat pukul 22.00 WIB dengan hitungan mundur. Bendera start aku kibarkan bersama Bu Susi (pimpinan BNI), Prof Wawan (Wakil Rektor ITB), dan Pak Archandra Tahar (Wamen ESDM, yang juga ikut lomba maraton). Disusul kemudian pemberangkatan pelari relay, R-4, R-8 dan R-16. Da Iyal, pelari kita, terlihat di jajaran depan. Setelah rombongan pelari, kelompok suporter yang terdiri atas tim motor, sepeda, ambulans, dan lainnya diberangkatkan.

Lega benar rasanya begitu semua berangkat. Aku langsung menuju ke arah Bogor untuk siap-siap mengambil bagian dari kegiatan lari, lari dan lari ini (meskipun banyak jalan cepetnya, he he he…) dari WS 6 ke WS 7 pada Sabtu pagi.

The Day, Sabtu 13 Oktober 2018, Ciawi-Cisarua

Pukul 08.00 WIB, setelah sarapan sedikit aku diantar dengan motor oleh driver-ku, Apnan, yang sekaligus sebagai pendampingku. Kami menuju titik WS 6 di Wisma Ciawi, Kementerian Agama. Rasanya aku sudah siap dan excited, membayangkan sejarah yang akan aku buat dalam waktu 1–2 jam mendatang. Ada juga sedikit waswas karena dengkul kiriku kok kadang terasa ngilu.

Setiba di WS 6, sudah banyak pelari dari tim-tim lain bersama tim suporter mereka, yang menunggu penuh semangat. Banyak yang menyapaku dengan ramah. Bahkan beberapa pelari muda muda mengajak selfi setelah tahu aku angkatan ‘70. “Foto-foto Pak, saya mau pakai untuk ndorong teman-teman saya nih.” Wow… Sambil duduk santai di sadel motor, aku menunggu Ai yang sedang menapaki jalur etape 5. Sekali-sekali Apnan memberitahuku posisi Ai, berdasarkan komunikasi dia dengan Ramdan (driver Boy), yang menjadi pendamping Ai.

Pukul 08.30 WIB, banyak pelari yang sudah mulai bergerak dari WS 6. Aku mulai khawatir dan mondar-mandir sedikit, sambil berusaha tidak melihat jam. Kuselingi dengan makan pisang dan kacang rebus, minum kelapa muda, sambil tiap sebentar menanyakan posisi Ai kepada Apnan. Yah, sedikit senewen.…

Akhirnya pada pukul 08.58 WIB Apnan berkata, “Sudah dekat, Pak.” Cepat-cepat aku jalan ke depan. Dari jauh terlihat sobatku Ai dan cerahlah hatiku. Kusongsong dengan senyum. Salam komando dan horeee, aku bisa mulai lari, eh jalan. Foto dulu sebentar, say hai-hai dan bismillah, mulailah aku menyusuri etapeku tepat pada pukul 09.03 WIB. Aku jalan cepat dengan keyakinan. Ini dia, akan kubuktikan bahwa aku sanggup menempuh jarak 10 km dalam waktu yang lebih cepat dari 1 jam 40 menit.

Tidak banyak yang bisa kuceritakan selama menanjak dari Ciawi ke Cisarua. Ada kalanya aku selingi jalan dengan lari, terutama di jalur rata yang tidak banyak jumlahnya. Banyak juga pelari lain yang aku salip sambil menyapa, “Hallo…”, sekalipun menanjak di tengah sorotan matahari dan di  samping arus kendaraan yang padat sungguh merupakan tantangan berat. Keringat mengucur deras. Jersey dan topi kuyup. Ya Allah, tujuanku kok masih jauh amat ya?

Ingin sekali lihat Narko, padahal biasanya aku cuek. Bukan karena aku mengagumi wajahnya yang ganteng, tapi ada Narko berarti WS 7 sudah dekat. Pasti dia juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganku, ibarat menanti datangnya kekasih yang dirindukan. He he he… Akhirnya pukul 10.35 terlihat Narko menyongsong aku dan menemaniku menempuh jarak 50 m terakhir. Aku berusaha untuk lari-lari kecil, tapi Narko bilang supaya jalan saja.

Eh, sekitar 30 m dari WS 7 kaki kanan terasa agak lain, seperti akan kram. Aku paksakan sampai finis, lalu foto serah terima buff di depan poster. Narko pun pamit, ”OK Bro, aku berangkat ya,” dan kujawab, “Good luck, Mbang.” Aku beranjak menuju resto Malayang, tapi kok aku tidak sanggup berjalan tegak. Aku minta driver-ku menuntun ke tempat peristirahatan para pelari. Sampai di situ, kakiku kram dan sakitnya minta ampun. Lama lagi, mana aku tidak tahu bagaimana menangani kram. Setelah hampir 20 menit kesakitan, akhirnya aku bisa juga berjalan. Dengan dibonceng motor, aku ke rest area untuk mandi dan istirahat sebentar.

Dari situ aku diantar dengan motor ke WS 8, Melrimba, dan selanjutnya aku ke Bandung menggunakan mobil sambil melihat suasana di setiap WS yang kulalui. Tiba di Bandung pukul 17.00 WIB, aku tukar baju di Wisma ESDM, lalu menuju kampus. Bersama Mas Gatot, Dik Hari Tjahjono, dan Pak Hari Muhammad (Dekan FTMD), kami menyambut para pelari yang sudah mulai berdatangan.

Sabtu Malam, Pelari Tiba di Kampus

Suasana di sekitar lapangan basket kampus ITB sudah disulap menjadi titik finis, bukan main ramai dan gegap gempitanya. Para soraker dan suporter tiap tim menyambut pelarinya dengan heboh. Saya menyaksikan dan menerima mereka sejak sore. Pukul 20.00-an,  teman-teman ITB ‘70 dengan dikomandani Yani Panogoro ikut beramai-ramai ke kampus. Tim relay ITB ‘70 dengan ujung tombak pelari Melok diperkirakan akan sampai pukul 04.00 pagi. Sekitar pukul 01.00, aku kembali ke Wisma ESDM sambil tetap memantau posisi pelari ITB ‘70 di WS 13, 14 dan 15. Aku sempat tertidur sebentar. Pukul 02.00 WIB, kulihat status Melok sudah mengambil buff dan menyusuri etape terakhir. Perkiraanku, Melok akan sampai di ITB kira-kira pukul 3 lewat. Cepat-cepat aku kembali ke kampus.

Betul saja, pukul 03.37 Melok memasuki gerbang menuju titik finis. Tapi kok sendiri? Aku kira akan bersama teman-teman soraker yang merencanakan lari bersama Melok memasuki kampus. Ternyata semua bablas ketiduran…. Selang beberapa menit muncul Hira. Kami pun berfoto bersama dengan Mas Gatot. Tak kemudian datanglah teman-teman lain. Kami gembira melihat hasil yang dicapai oleh tim ITB ‘70. Alhamdulillah target tercapai. Bukan saja tidak menjadi tim paling buncit, tapi nomor 70 dari 100-an tim relay. Opo ora hebat….

Minggu pagi, Finish Point Celebration  

Pagi itu, pukul 05.30 WIB aku minta satpam mengantar ke kantor PLN Cikapundung. Aku ikut melepas PLN-ITB 5K Fun Run, dengan jumlah peserta lebih dari 1.000 orang dan berakhir di kampus ITB pukul 08.00.

Yang super heboh hari itu adalah acara Victory Run yang diikuti seluruh pelari relay Rektor ITB berikut jajarannya, serta Pak Archandra Tahar dan Pak Ridwan Kamil, Gubernur Jabar. Victory Run start pukul 07.30 dari Rektorat di Tamansari. Kontingen ITB ‘70 yang terdiri atas para marathoners, suporter, dan soraker membuat rektorat gegap gempita. Ditambah dengan 4 barongsai berikut pemusiknya, pesanan ITB ‘70, membuat suasana perjalanan makin heboh. Rombongan barongsai ini bahkan sempat stealing the show di panggung.

Selanjutnya panggung diisi dengan acara selebrasi dan pengumuman juara, band berikut penyanyi yang merupakan alumni ITB. Klimaks dari acara 170K BNI-ITB Ultra Marathon berlangsung meriah. Dan kita akan bikin lebih heboh lagi tahun 2019.

Terima kasih teman-temanku semua….

Bambang W Sugondo (FT) – BWS/Narko

Sebetulnya sejak muda aku tak tertarik dengan maraton. Aku lebih suka voli dan gimnastik alias senam lantai. Pertengahan 2016, keponakanku cerita bahwa dia sedang mulai diet Keto yang dikombinasi dengan joging agar cepat turun berat badannya. Yang pertama tertarik adalah  putraku yang berat badannya 109 kg. Dalam tempo 3 bulan, bobotnya turun menjadi 86 kg. Tapi, aku masih belum tertarik juga.

Akhir Januari 2017, aku dan istriku, Ade, melakukan medical check up. Hasilku bagus,  tapi hasil Ade tidak. Dia terkena kanker payudara. Faktor pemicunya adalah ekstrogen yang diproduksi tubuh akibat obesitas, diabetes, dan hipertensi.

Dari tanya-tanya kanan kiri dan baca-baca di internet, ternyata obat yang paling cocok adalah diet Keto (less if not no carbo and sugar), yang semula memang dikembangkan untuk mengatasi diabetes. Alhamdulillah, Ade setuju untuk mengikuti program ini, sehingga sejak Maret 2017 aku rajin JJP bersama istri diselingi dengan joging. Tempat favorit Ade di sekitar Bali View. Itulah cerita awal aku jadi suka joging.

Begitu putra putriku tahu bahwa ibunya akan melakukan diet Keto dan JJP, mereka mendukung dan menyemangatiku untuk selalu mendampingi ibu mereka. Demikian juga dengan 3 menantu dan 8 cucu-cucuku, terutama 4 orang yang sudah remaja.

Aku sendiri yang menggemari olah raga langsung berdiskusi dengan putraku, Kites, yang sudah lebih dulu melakukan diet Keto dan joging, tentang bagaimana memulai latihan. Intinya, memang kita harus berlatih secara bertahap. Trek yang disarankan Kites adalah jalur yang mengelilingi Situ Gintung, danau di daerah Cireundeu. Panjang jalur tersebut 4,5 km.

Di hari pertama mulai latihan, aku hanya sanggup lari tak lebih dari 500 m. Untuk mengelilingi danau, aku hanya kuat  lari 5 kali dan selebihnya jalan kaki. Malamnya, seluruh badanku terasa sakit semua. Tapi, aku tahu bahwa badan dapat mengingat aktivitas baru kita. Dan supaya cepat diingat, kita harus upayakan latihan serutin mungkin. Jadi aku bertekad untuk jalan dan lari lagi besok paginya. Hasilnya? Masih sama dengan hari pertama.

Sepuluh hari berikutnya, untuk pertama kali aku mampu lari mengelilingi danau tanpa berhenti. Bangga sekali rasanya. Waktunya hampir 50 menit. Karena penasaran, aku browsing tentang kecepatan. Ternyata jalan kaki cepat saja bisa 10 menit/km. Sedangkan aku? Luar biasa pelannya, yaitu 11,1 menit/km. Maka, berikutnya, aku pasang target 40 menit atau 8,9 menit harus bisa dicapai dalam waktu seminggu. Target terpenuhi tanpa halangan, tapi hambatannya adalah rasa malas setelah JJP 40 menit dengan Ade.

Kebetulan di harian Kompas ada tulisan mengenai  kecepatan pelari maraton rata-rata 7–8 menit/km. Akhirnya aku putuskan untuk menjaga kecepatan lariku keliling danau 8 menit/km atau total 36 menit. Rata-rata aku joging keliling danau 3–4 kali seminggu. Diet Keto plus jogging menyebabkan berat tubuhku turun drastis dari 72 kg menjadi 63 kg dalam waktu kurang dari 3 bulan. Akibatnya keluargaku protes keras karena aku kelihatan tua sekali. Maka, aku usahakan untuk menaikkan bobot badanku sampai 65–66 kg, yang sampai sekarang masih sering merosot ke 64 kg dengan mudah.

Sebenarnya aku khawatir kalau kekuatanku menurun, khususnya untuk bermain golf. Sebagai catatan, di grup golfku ada 9 golfer dan aku yang paling tua, dengan selisih umur terdekat 6 tahun. Salah satu tanding ketangkasan adalah adu jauh tee off. Secara rata-rata aku sulit dikalahkan. Ternyata diet Keto sama sekali tak berpengaruh pada kekuatanku. Bahkan tubuhku kian lentur sehingga semakin bagus dalam permainan golf.

Terlibat dalam Ultra Marathon

Bulan Juli lalu, aku diajak sahabatku, Susilo, untuk terlibat dalam tim relay BNI-ITB Ultra Marathon. Setiap orang akan kebagian lari sejauh 5 km. Tentu aku semangat banget untuk ikut karena sudah sering berlatih untuk jarak tersebut. Apalagi setelah aku tahu bahwa sahabatku ini adalah penggagas UM tersebut, melalui Yayasan Solidarity Forever.

Pertama kali aku berjumpa dengan para ‘pejuang’ ITB ‘70 adalah di CFD. Mereka adalah Sawing, Deks, Donie, Susilo, dan Ai. Karena Ai tinggal di daerah Gatsu, maka dia menunggu kami di kolong Semanggi. Kami berjalan kaki pulang pergi dengan total jarak 6 km, diteruskan dengan sarapan pecel Madiun kesukaan Susilo dan Sawing.

Selain kami, banyak teman Jakarta dan Bandung yang bersemangat ikut tim relay. Sampai suatu hari Susilo mengumumkan bahwa panitia telah memutuskan peserta relay terbanyak adalah 16 orang. Ini berarti jarak yang harus ditempuh tiap peserta 170 km dibagi 16. OMG!!!

Sebagain teman mengundurkan diri karena kondisi fisik tidak memungkinkan lari sejauh itu. Setelah Susilo menetapkan Iyal sebagai team manager, mulailah disusun siapa saja yang akan ambil bagian dan untuk etape mana.

 

Agus Prawirasaputra (TA) – Agus

Aku mengawali perjalanan dari WS 8, Melrimba Garden, dengan perasaan waswas. Betapa tidak? Semua pelari ITB ‘70 sebelumku berhasil menyelesaikan etapenya. Aku tidak ingin menjadi pelari pertama yang gagal menjalankan tugas dan ini rupanya sangat membebani pikiranku.

Lalu aku ingat nasihat seorang teman yang merupakan pelari jarak jauh nasional, “Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif memenuhi kepalamu selagi berlari. Itu hanya membuatmu bertambah stres. Ingat saja semua hal yang menyenangkan dan lucu.” Nasihat ini kutanamkan di hati sambil berlari. Yang pertama kuingat adalah kehebohan di setiap acara ngumpul dengan Geng Garels. Maka, aku pun berlari dan berjalan sambil bersenandung, “… Keep smiling, keep shining, knowing you can always count on me, for sure, that’s what friends are for…”

Rasanya lebih nyaman dan lebih ringan langkah kakiku dengan bernyanyi lirih sambil mengingat-ingat perilaku kocak dan gelo sobat-sobatku ini. Setiap melihat orang yang kukenal atau siapa pun mengarahkan kamera padaku di sepanjang jalan, aku ekspresikan kegembiraan ini dengan senyum. Kadang kutambah dengan gerakan tubuh berputar (lari sambil dangsah menurut Ningsih) atau dengan langkah menyamping seolah sedang maumerean (… ke kiri ke kiri, ke kanan, ke kanan…).

Tak terasa sudah sejam lebih perjalananku, berarti sekitar 8 km telah kutempuh dari 10,9 km yang menjadi etapeku. Tanpa diduga aku mengalami kram di bagian betis…

6^43’37.0”S 107^02’08.8”E

Dari titik koordinat ini ke WS 9 (Hotel Sanggabuana), aku cek di Google Map jaraknya 2,9 km. Aku tiba di titik ini (jembatan yang di dekatnya ada tanda ‘Batas Desa Sindang Jaya’) sekitar pukul 2 siang kurang beberapa menit, ketika tiba-tiba kakiku kram di bagian betis kanan dan menjalar sampai ke jari-jari kaki kanan. Tak lama kemudian, kaki kiri ikut-ikutan kram. Sambil menahan sakit, aku coba urut sebisanya. Kubentur-benturkan betisku ke palang besi jembatan. Lalu aku berdiri dan jongkok berulang kali. Kulakukan apa saja untuk mengurangi rasa sakit.

Di depan kulihat tanjakan terjal, sedangkan di belakangku turunan tajam yang baru kulewati. Tak terlihat marathoner lain atau pun mobil panitia yang lewat. Hanya beberapa mobil melintas jembatan dari kedua arah. Mungkin sekitar 5–10 menit, aku tak tahu pasti, sakitnya agak berkurang. Aku paksakan berjalan sampai di ujung tanjakan (aku lihat di Google Map jaraknya sekitar 400 m). Di sana aku menemukan meja panitia yang menyediakan air minum. Ada 2 petugas wanita berjaga. Salah satunya menawarkan minuman. Aku bertanya, “Ada obat gosok?” “Hanya ada minuman, Pak,” jawabnya. Tiba-tiba temannya menimpali, “Ada, Pak. Tunggu sebentar.” Ia berlari menuju salah satu mobil yang diparkir di situ, lalu tergopoh-gopoh kembali sambil membawa tas. Dari dalamnya dikeluarkan semprotan berbentuk tube, seperti yang kulihat di TV untuk mengobati atlet yang cedera saat bertanding. Srooot…sroot…, kusemprotkan ke bagian kakiku yang kram.

Setelah mengembalikan semprotan dan mengucapkan terima kasih, aku melanjutkan perjalanan. Kaki masih terasa sakit, tapi sudah jauh berkurang. Ketika melewati Pasar Cipanas, aku berjalan melewati emperan toko, bukan di jalan aspal, menghindari padatnya kendaraan umum dan orang yang lalu lalang. Lepas dari pasar, aku melewati Istana Cipanas, terus lagi dan bertemulah aku dengan BWS dan rombongan keluargaku.

Di depan mereka, aku berlagak tidak terjadi apa-apa. Aku minta minum, makanan kecil dan obat gosok, yang kuoleskan banyak-banyak di bagian betis dan sekitarnya. Sempat ha ha hi hi sebentar, foto-foto, lalu aku pun melanjutkan perjalanan dengan sedikit berlari (mumpung kaki sudah memungkinkan). Sampai akhirnya di kejauhan tampak papan bertuliskan Hotel Sanggabuana, tempat WS 9 yang merupakan tempat finis etapeku.

Mulailah aku lari, lupa semua rasa sakit, lupa kram kaki, lupa segala-galanya. Aku bisa, aku bisa, aku bisa. Kulihat di sana Donie bersiap-siap menyambut kedatanganku. Kami berpelukan sangat erat, lalu bersama menuju meja panitia.

Alhamdulillah Yaa Rabbi…

La hawla wa la quwatta illa billahi alliyil adzim…

Prasetyo (TI) – Pras

Heboh ITB 70

Part One

Kali ini alumni ITB ‘70 membuat kehebohan lagi, ikut Relay 16 BNI-ITB Ultra Marathon 2018! Hebohnya lagi, keenam belas pelari ini berhasil menyelsaikan etapenya. Sementara di garis finis di kampus ITB, meski kami bukan nomor 1, tapi bukan pula di posisi buncit. Sejak awal kami sadar bahwa kami bukanlah kumpulan pelari tercepat. Lihat saja, total usia tim kami 272 tahun lebih senior dari tim ITB ‘87, finisher nomor 2. Lalu bagaimana kami bisa bersemangat mengikuti BNI-ITB Ultra Marathon 2018?

Energi sebagai tim, sesungguhnya sudah terbentuk sebelum event UM ini. Kami bertemu secara teratur di Escape Coffee, setidaknya sebulan sekali. Escape Coffee menjadi posko tempat bertemu, bertatap muka, berkomunikasi, di samping obrolan melalui sosmed. Begitu ada gagasan untuk turut serta di BNI-ITB UM 2018, dengan segera bisa menanggapi dan menindaklanjuti.

Dengan cepat daftar nama tim pelari ITB ‘70 bisa disusun. Pada saat bersamaan dilakukan kampanye bahwa ITB ‘70 akan berlari untuk mengumpulkan dana bagi ITB. Setiap langkah akan kita jual dan disumbangkan ke Dana Lestari ITB. Segala gerakan untuk kebaikan ITB sudah cukup membakar semangat alumni ITB ‘70 untuk turut berpartisipasi.

Tantangan realitas mulai berdatangan. Ada yang bentrok dengan acara keluarga, ada yang jatuh sakit, ada juga yang urung setelah ditetapkan jarak etape 10 km. Nama-nama tim pelari mulai stabil setelah 3 minggu, terdiri atas alumni ITB ‘70 yang tinggal di Jakarta dan Bandung.

Rekan-rekan yang bukan tim pelari tidak berdiam diri. Berbagai nama dilekatkan, tim pendamping, tim support, de sorakers, dan lainnya. Tim-tim ini berperan penting mendukung keberhasilan para pelari, yang mendampingi sejak pembentukan hingga selesai. Mereka mendorong, mendukung, dan menyemangati tim pelari. Inilah tim ITB ‘70 untuk BNI-ITB Ultra Marathon 2018: 16 orang pelari, dan 50 lebih aktivis alumni sebagai

 

Arlina Gumira (TP) – Lien

Pengalaman Pertama

Awal cerita saya bergabung dalam tim R-16 ITB ‘70 karena diajak oleh Prof Ning dan Meltje. Tadinya sekadar berpartisipasi sebagai penggembira, dengan catatan hanya untuk jarak 5 km. Dan, semula sebagai penyambut dan menemani pelari terakhir masuk ke garis finis.

Pada beberapa kali pertemuan di Escape, saya hadir untuk mendengarkan penjelasan Mas Susilo (Ketua Yayasan Solidarity Forever), Uda Iyal (Ketua Tim Marathoners ITB ‘70) dan Mas BWS (komandan/pelatih). Kemudian terbentuk tim yang berjumlah 16 orang, sedangkan saya belum termasuk sebagai anggota tim.

Tapi, saya mencoba berlatih. Pertama kali di Sabuga ITB sebanyak 4 putaran. Latihan kedua sudah bertambah menjadi 10 putaran. Berikutnya saya jalan dari rumah ke Otista pulang pergi sambil mampir belanja beberapa kebutuhan, bahkan singgah di Jalan Pasteur. Ternyata lumayan, saya menempuh jarak sekitar 11 km, sedangkan waktunya masih leluasa.

Pada pertemuan berikutnya, diperoleh kabar bahwa Prof Cyccu tidak jadi ikut sehingga saya diminta menggantikan. Saya agak gelisah juga karena teman-teman Jakarta serius berlatih secara rutin dengan peningkatan waktu yang signifikan. Sedangkan latihan saya belum maksimal karena beberapa kali mendapat tugas ke luar Jawa. Selesai pertemuan malam itu, ternyata teman-teman Jakarta akan berlatih. Kesempatan bagi saya untuk ikut. Mulai dari sekitar pukul 21.00, keliling lingkar luar GBK, mencapai jarak 5 km. Alhamdulillah saya bisa mengikuti kecepatan teman-teman.

Minggu berikutnya, sebagian grup Bandung (Kang Iyus, Prof Ningsih, Roy, dan saya) survei lokasi mulai dari WS 11, 12, 13, 14, 15. Waktu itu saya kebagian WS 13. Ternyata medannya berat, banyak kelokan tajam dengan tanjakan lumayan curam. Lalu lintasnya sangat padat, truk dan bus saling susul, sedangkan trotoar yang tersedia tak memadai jumlahnya. Tapi Kang Iyus, Roy dan saya tetap mencoba medan tersebut sampai sekitar 2 km. Kelihatan kelincahan Kang Iyus berlari. Tanjakan dilaluinya dengan cepat dan mudah.

Melihat hal itu, saya lalu minta kerelaan Kang Iyus dan izin dari Pak Ketua untuk bertukar tempat. Jalur yang akan dilalui Kang Iyus relatif datar dibandingkan jalur saya. Alhamdulillah, Kang Iyus dengan senang hati mau melakukannya. Mungkin kasihan melihat saya yang mengiba-iba.

Minggu berikutnya Prof Ning, Roy dan saya melakukan lagi uji coba di lokasi sesuai etape masing-masing. Namun, sekali ini di siang hari ketika panas terik. Saya menempuh jarak 11 km didampingi Gina, istri Roy, dan dikawal oleh Kang Tutang. Alhamdulillah uji coba berhasil saya lalui.

Sementara latihan berjalan, rupanya langkah para pelari ITB ‘70 sudah banyak laku terjual. Termasuk langkahku yang dibeli oleh teman-teman TP (dikoordinir oleh Ermi), Nin YP (untuk seluruh jarak yang kutempuh) dan Suci. Terima kasih yang mendalam untuk teman-teman karena membuatku kian bersemangat dukungan dari teman-teman ITB ‘70. Lalu masih ada lagi kadeudeuh. Rasanya seperti marathoner sungguhan.

Hari yang dinanti

Di hari H, kami berkumpul di base camp di Kota Baru Parahyangan. Tim suporter telah mengatur jadwal dan menyediakan berbagai keperluan pelari. Mulai dari yang menjadi pendamping dan pengawal hingga keperluan makan dan minum, semua sudah dibereskan. Tim suporter ini terdiri atas Budos Hira, Ida, Suci, Kang Dedi, Kang Mawardi. Sedangkan pengawal adalah Kang Tutang, Kang Uus, Acim, dan Dedi kecil. Di tempat ini kami maksi bersama. Budos Hira telah mengatur makanan bergizi untuk kami, istilahnya carbo loading.

Perjalanan yang sesungguhnya dimulai pukul 16.00. Kami didrop di WS yang telah ditentukan. Saya turun di Warung Sate Maranggi Mang Keuyeup. Di sana sudah banyak pelari  lain dengan etape sama yang berkumpul bersama pendamping dan pengawal mereka. Karena itu, tempat tersebut jadi penuh dengan mobil, sedangkan lalu lintas juga sangat padat.

Saya menunggu kedatangan Mas Pras dari WS 10. Pukul 19.15, Mas Pras muncul dengan basah kuyup karena keringat dan hujan yang sempat turun sebentar. Dia lapor ke panitia, lalu kami melakukan serah terima buff dan membuat foto dokumentasi. Mulailah perjalanan saya dengan perlengkapan komplet: jersey dan rompi scott light hijau, lampu kelap kelip di tangan dan head light yang cukup berat rasanya di kepala.

Begitu melangkah, entah dari mana datangnya tahu-tahu Mas BWS sudah di belakangku. Sesuai dengan janjinya, Mas BWS menjadi pelari pendampingku. Saya pun melangkah sekuat tenaga mengingat jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 11 km. Sementara hari sudah malam, tidak ada trotoar, dan lalu lintas cukup padat dengan kendaraan besar. Gerak saya terbatas karena permukaan lintasan merupakan kerikil pecah. Debu beterbangan di sekitar saya. Saya berjalan kadang di bahu jalan, kadang di garis putih tepi jalan. Langkahku terseok-seok seperti orang mabuk, kadang tersandung seperti akan jatuh. Untunglah Mas BWS terus memandu saya, memilihkan jalur mana yang harus ditempuh. Juga ada Kang Tutang sebagai pengawal yang setiap jarak tertentu berhenti untuk memonitor sehingga saya merasa aman.

Sebelumnya saya sudah membuat patokan. Jika sudah sampai jembatan Citarum, berarti tugas saya tinggal setengah lagi. Tapi, malam itu rasanya setengah perjalanan menuju Masjid Rajamandala panjang banget, tak kunjung tiba di tujuan. Namun, kuayunkan langkah terus dan terus, hingga akhirnya tiba juga di garis finis. Saya lapor kepada panitia dan menyerahkan buff kepada Roy yang menjadi pelari selanjutnya.

Ada yang belum saya ceritakan. Seminggu sebelum hari H, kedua mata saya bengkak kemerahan seperti habis digebukin dan tidak bisa dibuka. Mungkin kena debu ketika saya uji coba di etape saya. Bengkaknya serius, sampai mataku seperti penuh dengan butiran pasir. Tak berani saya mengunggah foto saya. Takut dikira menyaingi RS dan membuat onar. Saya ke dokter mata sampai 2 kali. Alhamdulillah dua hari menjelang hari H, mataku sembuh total.

Demikianlah catatan pengalaman pertama sebagai marathoner. Terima kasih teman-teman, saya sudah dipercaya menjadi tim kebanggaan ITB ‘70 di BNI-ITB UM 2018. Bravo ITB ‘70!

Roy Tulung (SR) – Oyke

Keterlibatan saya dalam UM BNI ITB 2018 bermula setelah setengah dipaksa oleh Meltje. Jadilah saya memberanikan diri untuk ikut audisi sebagati peserta tim Relay 16. Mungkin karena peminatnya belum terlalu banyak, saya langsung diterima sebagai salah satu kandidat.

Sejak mahasiswa memang saya suka olahraga joging dengan sedikit lulumpatan, karena bisanya ya cuma itu. Setelah lulus dari ITB dan pindah ke Jakarta, seminggu dua kali selepas gawe, saya joging di luar Stadion Utama Senayan. Di sana saya bertemu dengan berbagai insan yang ingin memelihara kebugaran. Kami membentuk klub bernama ‘Perjaka Senja’ singkatan dari ‘Persatuan Pejalan Kaki Senayan Jakarta’.

Saya tidak merokok sejak tahun 1977, jadi seharusnya tidak ada masalah untuk ikut dalam event ini, asal mau serius berlatih lagi.

Iyus Ruswandi (PL) – Iyus

Penasaran memicu semangat

Bermula dari rasa penasaran yang timbul setelah beberapa kali melihat foto dan membaca posting–an di WhatsApp grup dari teman yang ikut lomba lari 10K. Setiap kali saya kagum. Luar biasa, dengan umur segitu masih bisa ikut lomba lari berkali-kali. Paling lama jedanya mungkin 2 bulan, sudah ada berita lari di sini, lari di sana. Bukan main staminanya. Itulah teman saya sejak SMA. Badannya kecil, tapi namanya besar: Melok Besari. Ia betul-betul membuat saya penasaran, mampu ikut lomba lari 10K hampir tiap bulan. Bahkan pernah ikut half marathon. Saya sendiri berusaha jalan pagi bersama istri hampir setiap hari. Tapi ya itulah, mencapai 5.000-an langkah atau setara dengan jarak tempuh 3–3,5 km rasanya sudah jauh dan kami pun menyudahi perjalanan kami. Jauh sekali bedanya dengan Melok yang sarapannya lari pagi minimal 7 km.

Ketika Da Iyal memberi kabar bahwa akan komba lari yang diikuti teman-teman ITB ‘70 dengan jarak tempuh masing-masing 5 sampai 10 km, saya mulai tertarik. Saya harus ikut nih, minimal yang 5 km. Masa sih enggak bisa? Lutut kanan saya memang sudah cedera. Urat ligamennya sudah putus sejak saya masih SMA. Dan ligamen yang putus tidak bisa pulih lagi. Ditambah belum lama ini lutut kanan saya terkilir dan bengkak. Untuk jalan saja tubuh sudah oleng, apalagi untuk berlari. Itulah yang membuat saya ragu pada kemampuan saya. Tapi, saya tetap akan mencoba.

Saya beli knee decker yang ada reinforced-nya. Saya mulai latihan jalan cepat. Dari semula hanya 3,5 km, bisa menjadi 5 km. Yang tadinya hanya jalan cepat, mulai dengan joging atau lari-lari kecil. Menurut Kang IU (yang juga pernah beberapa kali ikut lomba 10K), cara ini lebih efektif. Tiap dua atau 3 hari saya berlatih, dengan terus menambah porsi jarak.

Sementara berita-berita dari teman-teman sesama calon pelari dadakan juga terus terbaca di WhatsApp grup. Kadang bikin keder juga membaca hasil latihan teman yang jauh di atas pencapaian saya, seperti BWS yang pace-nya sudah di bawah 7 menit. Waduh, itu sih sudah ukuran atlet AG. Lalu ada Pras yang hanya jalan cepat, tapi pace-nya bisa mendekati 9 menit. Bagaimana caranya bisa mendekati kemampuan mereka, sedangkan pace saya masih sedikit di bawah 11 menit.

Pembicaraan di WhatsApp grup mengenai pembagian etape berkembang. Tidak ada lagi etape 5 km! Semua pelari harus mampu menempuh paling tidak 10 km. Hati saya keder lagi. Tapi no retreat, saya sudah memutuskan untuk ikut. Saya latihan terus, sampai 6 km, 7 km, dan akhirnya 10 km! Ternyata ketika slotting pembagian etape, saya mendapatkan etape yang panjangnya 12 km, dari Ciranjang ke Rajamandala. Walah, 10 km saja sudah terasa berat. Mampukah saya? Ya harus! Saya latihan terus, terus dan terus. Begitulah lahirnya pelari dadakan di umur 67 tahun ini.

Setelah bergiat berlatih selama 3 bulan, saya berhasil juga menuntaskan tugas saya sebagai pelari ke 14 dari tim Relay 16 ITB ‘70. Alhamdulillahirabbil’aalamiin, ternyata saya bisa berlari di bawah waktu 1 jam 40 menit yang merupakan target awal yang ditentukan Da Iyal.

Ada penggemar di Padalarang

Etape yang saya jalani adalah dari WS 13 di RM Rasa Sunda Citatah sampai ke WS 14 di gerbang Kota Baru Parahyangan. Empat puluh persen perjalanan yang tempuh atau sekitar 4,3 km pertama merupakan tanjakan dengan kemiringan 5%, bahkan ada yang sampai 8%. Selepas tanjakan baru sedikit menurun dan kemudian jalan rata serta lurus.

Di bagian yang datar ini saya mencoba mempertahankan pace hampir mendekati 9 menit/km. Walau cukup lelah, saya berusaha agar kecepatan saya tidak menurun. Ini untuk mengejar waktu karena selama di tanjakan, pace saya di atas 10 menit. Ada beberapa pelari lain juga bersama saya di jalur ini. Ada yang lebih cepat, ada yang lebih lambat. Tapi ada yang rasanya mengikuti terus di belakang saya. Terdengar dari bunyi langkahnya dan lampu sorotnya.

Pada saat lari dengan kecepatan konstan begitu, kalau tidak salah mendekati pertigaan jalan raya Padalarang, tahu-tahu dari pinggir jalan seperti ada yang memanggil nama saya. Kurang begitu jelas terdengar, tapi memotret saya juga. Wah, ada fan rupanya… Tapi, ah mungkin dia salah lihat. Rasanya saya tidak punya ‘peninggalan’ di sini. Saya lari terus, tapi melalui sudut mata saya sempat melihat sosok perempuan berhijab warna terang. Untung bukan putih, bisa saya lari terbirit-birit.

Sesampai di tempat finis di WS 14, bertemulah dengan yang mengekor di belakang saya, yaitu sepupu istri saya, alumni MS ‘84. Sementara yang memanggil dan memotret saya adalah istrinya. Padahal, saya sudah ge-er, mengira punya fan. Dia termasuk tim Relay 8 yang lari dari WS 12 ke WS 14. Pantesan dia tidak kelihatan menyusul saya karena waktu startnya sudah lebih dahulu.

Ningsih (GD)

Menjadi Peserta BNI-ITB UM 2018

Bermula ketika saya di-japri oleh Melok untuk mengisi formulir dan akan didaftarkan untuk menjadi peserta Tim Relay 16 ITB ‘70 dalam BNI-ITB UM 2018. Saya sampaikan kepada Melok bahwa saya bukan seorang runner. Ketika tahun lalu mengikuti Fun Run Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB sejauh 5 km, sudah saya rasa cukup berat. Saya hanya jalan cepat saja dan jauh tertinggal dari Melok walau akhirnya berhasil saya selesaikan dalam waktu cukup lama. Itulah medali pertama yang saya peroleh. Setelah itu, saya tidak pernah ikut lagi dalam acara run lainnya. Olah raga saya hanya jalan santai dan basket.

Setelah diisi, formulir saya kirim kembali kepada Melok. Ia berkata, “Masih ada waktu 3 bulan. Latihan saja, pasti bisa.” Saya coba berjalan cepat. Pertama kali dilakukan dari rumah ke kampus ITB. Jarak yang 3,5 km yang biasanya ditempuh dalam 1 jam, ternyata bisa dalam tempo lebih singkat. Kemudian saya mencari jalur yang lebih jauh, yaitu 5 km, lanjut 6 km. Mulai terasa sakit di telapak kaki kiri. Saya pikir asam urat. Tapi, ternyata bukan. Saya pikir karena sepatu. Saya beli insole shoes, dari yang biasa hingga yang silikon. Sakit mulai berkurang. Tapi, ketika jarak tempuh ditambah, pulang ke rumah terasa lagi sakit di telapak kaki. Saya coba merendam kaki dalam air hangat plus garam. Anak saya menyarankan untuk membeli sepatu yang agak mahal. Akhirnya saya pun membeli sepatu baru.

Sementara itu, waktu terus berjalan. Tinggal 2 bulan menuju hari H. Saya mencoba menempuh jalur 10 km. Lumayan, hanya terasa sedikit sakit di kaki. Sebelum perubahan WS (saat itu saya ditempatkan di WS 12–13) dengan jarak 11,5 km dari BNI Cianjur ke BNI Ciranjang. Artinya, saya harus mampu menempuh jarak 11,5 km dan waktunya setelah Magrib. Saya pun mencoba latihan jarak tersebut dengan berangkat dari rumah sekitar pukul 16.00. Saya berjalan sesuai jalur yang saya pelajari dari Google menuju tempat praktik dokter gigi untuk memeriksakan gigi yang linu. Dengan berjalan berkeliling, sampailah saya di tempat dokter gigi sekitar Magrib dengan badan basah karena kehujanan dan mandi keringat. Ternyata jarak yang ditempuh hanya 10,8 km, belum sampai 11,5 km, dalam waktu 2 jam lebih. Telapak kaki kiri terasa sakit lagi, malah ditambah dengan nyeri di pangkal paha kanan. Hadeuh, macam-macam deh….

Kemudian ada perubahan lokasi WS, bergeser dari BNI Cianjur ke RM Sate Maranggi dan berakhir di Masjid Rajamandala. Di bagian akhir ada tanjakan pula. Bagaimana ini? Saya segera menyampaikan ke koordinator, Uda Iyal, bahwa kepastian kesertaan akan saya sampaikan akhir September. Saya bingung karena sudah banyak yang membeli langkah saya. Bagaimana kalau saya sampai mengundurkan diri?.

Alhamdulillah, ketika kapten BWS memberikan peringkat pada para marathoner ITB ‘70, saya berada di posisi paling bawah. Saya langsung mengacungkan jempol. Thanks BWS. Saya pun dialihkan ke WS 14–15, dengan jarak 8 km dan perbedaan elevasi 100 m. Dengan dua kali melakukan latihan di lokasi sebenarnya bersama Lien dan kemudian dengan Melok, ternyata banyak membantu. Terima kasih buat Lien yang menggantikan posisi saya. Ternyata waktu tempuh tetap tidak berubah, sekitar 1 jam 45 menit, baik pada latihan pertama maupun kedua, karena banyaknya kendaraan di samping saya dan saya harus naik turun trotoar.

Di hari H, tim Bandung berangkat menuju Pine Mason Hotel di Kotabaru Parahyangan, Padalarang untuk maksi bersama dengan tim pendukung, yaitu Hira, Suci, Ida, Dedi S, Mawardi. Mereka ini yang mengoordinasi akomodasi, perbekalan, antar jemput, dan lainnya. Giliran saya sekitar pukul 01.00 dini hari. Waswas timbul karena tidak ada berita dari Iyus mengenai keberadaannya. Saya kehilangan komunikasi sejak WS sebelumnya. Saya pun hanya bisa menunggu, sampai akhirnya Iyus muncul diiringi BWS. Hebat kapten kita, mengikuti terus para pelari. Salut deh.

Awalnya saya coba berlari. Pada waktu latihan saya sanggup slow jogging paling jauh hanya 1 km. Eh, BWS bertanya, “Sudah langsung lari?” La  iyalah, di jalan datar saya coba slow jogging sekuatnya. Nanti di tanjakan, saya jalan lagi. Alhamdulillah dengan cara ini saya bisa lebih cepat 17 menit. Jalan sepi, tidak seperti ketika latihan. Ketika menyeberang jalan dibantu oleh panitia dan tidak harus naik ke trotoar, bisa di garis putih di pinggir jalan. Seharusnya saya bisa lebih cepat lagi. Akhirnya saya sampai di WS 15 dan menyerahkan buff ke Melok, lalu saya ikut mobil Hira ke kampus sambil mengawal Melok. Tapi, ternyata tas saya yang berisi pakaian ganti tidak dibawakan, padahal baju yang saya pakai sudah basah kuyup oleh keringat. Sampai acara Victory Run dari Rektorat ke kampus, tas masih belum datang juga. Terpaksa saya menggunakan jersey BNI-ITB UM 2018 yang untungnya sudah kering. Ya sudahlah…. Kalau tidak mengingat moto ITB ‘70: ‘Sekali Teman Tetap Teman’, barangkali lain ceritanya.

Alhamdulillah, saya masih bisa turut meramaikan acara BNI-ITB UM 2018 sebagai bagian dari tim Relay 16 dan dapat menyelesaikan tugas saya. Beban terasa terangkat dan hati pun plong. Terima kasih untuk teman-teman ITB ‘70: Nin YP, Buket, bendahara, tim pendukung, de sorakers dan teman-teman yang telah membeli langkah saya untuk disumbangkan ke Dana Lestari ITB.

Melok Besari (FT)

Drama Tim ITB ‘70, Tim Paling Tua

Drama Kesatu

Minggu terakhir bulan Juli 2018, saya mendapat japri dari sahabat bermaratonku. Kami sudah berteman selama hampir 4 tahun walau tidak berusia sama. Dia kepala suku Eititu. Dia menulis, “Mbak, mana tim ’70-nya? Nanti tidak kebagian slot lho.” Aku balik bertanya, “Emang kamu sudah daftar?” (pertanyaan konyol!). Jawab sahabatku singkat saja, “Sudah!”

Sambil gemetaran karena takut tidak kebagian slot, saya langsung japri Lurah ITB ‘70, Uda Iyal, “Da, siapa aja yang mau ikutan UM?” terjadilah japrian bolak balik dengan uda. Keputusannya, hari itu saya harus japri teman-teman menanyakan siapa yang mau ikut serta bermaraton ria. Ada yang menjawab penuh semangat. Ada yang menyahut dengan tapi ini tapi itu, takut begini takut begitu. Ada yang sudah baca, karena terlihat contrengannya biru, tapi sepi-sepi saja. Gemezzz….

Akhirnya dengan dibantu oleh sahabatku, Donie, terkumpul juga 16 orang aki-aki dan nini. Aku dan Uda Iyal lega.

Drama kedua

Ternyata ketika kemudian di WhatsApp grup heboh tentang ultra marathon ini, banyak yang ingin ikut serta menjadi marathoner. Memang hebat semangat teman-temanku ini. Tapi tim sudah disusun waktu itu. Aku bertanya lagi, “Gimana nih, Da? Ternyata banyak yang ndaftar.” Uda menyarankan untuk berlatih, berlatih, dan berlatih. Setiap hari masing-masing melaporkan perkembangannya di WhatsApp grup sehingga bisa dinilai kemampuannya. Maklum jarak yang akan kami tempuh rata-rata 10 km dengan COT (cut off time) 2 jam. Akhir dari drama ini, terbentuklah tim R 16 ITB ‘70. Ternyata, ketika mendekati hari H, 3 orang aki dan nini minta diganti karena cedera. Salah satunya adalah nini profesor dari Medan. Ia terlalu semangat berlatih sehingga jatuh sakit. Tetapi pada hari H, ia datang menjadi salah satu soraker yang heboh.

Terima kasih marathoners…

Terima kasih tim supporters…

Terima kasih de sorakers…